Pembaca. Petani di manapun Anda berada. Alhamdulillah, kopi menjadi salah satu komoditas andalan perkebunan penghasil devisa negara kita. Nilai devisanya pada 2010 sebesar 845,54 juta dolar AS kemudian naik menjadi 1,06 miliar dolar AS pada 2011 dan kembali naik menjadi 1,25 miliar dolar AS pada 2012 dan pada tahun 2013 nilai tetap sama 1,25 miliar dolar AS, meski volume ekspor meningkat 5% dari tahun 2012 karena turunnya harga kopi dunia 3-4 dolar AS per kilogram. Untuk produksi kopi nasional pada 2012 mencapai 657.138 ton atau naik 2,8 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 638.647 ton. Dan pada tahun 2013 naik sekitar 1,98% menjadi 670.000 ton.

Ranah Kopi

pengembangan kopi ramah lingkungan

Indonesia saat ini merupakan negara penghasil kopi terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Ketiga negara tersebut mengekspor 47 persen dari seluruh volume ekspor kopi dunia dengan pangsa pasar masing-masing: Brasil 28 persen, Vietnam 12 persen dan Indonesia 7 persen. Nilai ekspor kopi dalam lima tahun terakhir meningkat sekitar 21,64 persen per tahun.

Pembaca, agribisnis kopi ke depan akan diarahkan pada green economy guna memenuhi tuntutan pasar internasional. Pasar internasional menginginkan kualitas kopi yang sesuai dengan tuntutan konsumen seperti keamanan pangan, pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, agribisnis kopi akan diarahkan pada pemberlakuan sertifikasi kopi berkelanjutan (sertifikasi kopi ramah lingkungan).

Kementerian Pertanian telah menyediakan teknologi hasil inovasi untuk pengembangan kopi ramah lingkungan,  seperti meliputi penyediaan bahan tanaman (varietas) unggul, budidaya ramah lingkungan dan pengolahan berlandaskan pada kaidah keamanan pangan. Salah satu varietas unggul yang saat ini banyak diadopsi adalah varietas kopi S-795 yang tahan terhadap cekaman lingkungan dan penyakit karat daun. Pada budidaya ramah lingkungan diarahkan pada penggunaan pupuk organik, biopestisida dan budidaya berbasis konservasi tanah dan air, serta penerapan Good Handling Practices (GHP) pada pengolahannya yang dapat menghilangkan pencemaran residu.

Saya mengharapkan inovasi teknologi yang dihasilkan dari kegiatan penelitian Badan Litbang Kementerian Pertanian ini menjadi jawaban dari berbagai isu yang terkait dengan kopi ramah lingkungan, mendorong peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran, peningkatan mutu produk sesuai dengan tuntutan konsumen, peningkatan pendapatan petani serta pelestarian lingkungan sehingga terbangun sistem agribisnis kopi yang berkelanjutan.

Kementerian Pertanian selalu berupaya untuk mempercepat difusi inovasi teknologi kopi kepada pemangku kepentingan demi mendukung pembangunan berkelanjutan ini. Misalkan melalui penyelenggaraan seminar, pelatihan dan ekspo yang dapat menguatkan peran inovasi teknologi sebagai unsur utama peningkatan daya saing yang perlu dikembangkan secara luas kepada petani agar dapat diadopsi untuk menghasilkan produk yang mampu menciptakan brand pasar global.

Teknologi pertanian ramah lingkungan ini berprinsip pada keselarasan antara upaya peningkatan produksi dan kelestarian lingkungan. Seperti, integrasi tanam kopi dengan peternakan sapi di Buleleng Bali. Limbah dari daun kopi digunakan sebagai bahan baku ternak sapi, yang terbukti mampu meningkatkan berat bobot hidup sapi. Sementara, kotoran sapi diolah menjadi kompos juga biomassa. Dengan demikian, potensi pendapatan petani pun bertambah, yaitu keuntungan dari penjualan sapi juga pupuk kandang untuk menyuburkan tanaman.

Di beberapa provinsi seperti Bali, Sulsel, Sumut dan Aceh, petani kopi sudah sejak lama telah diarahkan menggunakan pupuk kandang dan pembasmi hama secara alami. Dalam proses pemeliharaan mereka menghindari penggunaan pupuk organik dan zat kimia. Termasuk dalam pemberantasan hama dengan menggunakan musuh alami (predator). Lalu penerapan petik buah merah, serta pengolahan dengan sistem olah basah. Mutu kopi hasil olah basah jauh lebih baik dibanding matang dan yang diolah kering.

Dengan ketersediaan teknologi kopi ramah lingkungan itu, saya berharap petani semakin mudah dapat memenuhi standar kopi ramah lingkungan secara global. Semakin banyak petani yang sadar mutu, akan terbuka kesempatan bagi Indonesia untuk suatu saat dapat menempati posisi teratas pengekspor kopi ramah lingkungan di dunia internasional. Pada gilirannya, kita berharap para petani kopi Indonesia,  Insya Allah, dapat lebih sejahtera dan berjaya.

 

Sumber:http://m.tabloidsinartani.com/index.php?id=148&tx_ttnews%5Btt_news%5D=500&cHash=466d7284783737f91ff9ef5ab8173b98