Komoditas kopi merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda, bahkan sampai sekarang cenderung terus berkembang.

Ada dua jenis kopi yang dibudidayakan masyarakat di Kabupaten Temanggung, yakni kopi arabika dan kopi robusta. Kopi arabika ditanam di daerah dataran tinggi 1.000 hingga 1.700 meter dpl, sedangkan kopi robusta ditanam di dataran rendah dan sedang.

Berdasarkan data di Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Temanggung, kopi arabika ditanam di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing dengan luas areal sekitar 1.144 hektare dengan produksi 61 ton.

Sementara itu, kopi robusta tersebar di berbagai kecamatan di Temanggung, antara lain Kecamatan Wonoboyo, Candiroto, Bejen, Gemawang, Kandangan, Kaloran, dan Jumo dengan luas areal 10.000 hektare dengan produksi 6.481 ton.

Kebanyakan hasil produk kopi asal Temanggung dijual dalam bentuk kopi beras atau ose. Namun, ada pula yang dipasarkan dalam bentuk kopi bubuk, kopi sangrai, dan kopi luwak.

Pengolahan kopi bubuk mempunyai prospek yang cukup baik. Hal ini dipengarui oleh beberapa potensi yang ada, di antaranya luas lahan dan produksi kopi rakyat menjamin kontinuitas pasokan bahan industri.

Selain itu, konsumsi kopi masyarakat cenderung meningkat. Kondisi ini terlihat pada beberapa tempat penjualan minuman kopi yang tidak pernah sepi pengunjung.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Kopi (Apeki) Kabupaten Temanggung Rachmat Pratikto mengatakan bahwa kegiatan mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi siap minum sebenarnya sudah dilakukan masyarakat petani sejak 1980-an yang dipasarkan dalam bungkus plastik tanpa merek.

Kopi dengan kemasan yang lebih menjual baru muncul pada tahun 2000-an dan terus berlanjut hingga sekarang. Merek yang dipakai, antara lain Robusta, Djinawi, dan Bambu Runcing.

Ketua Gabungan Kelompok Usaha Tani Maju Makmur, Desa Mento, Kecamatan Candiroto, Heru Prayitno, mengatakan bahwa sebagai perintis pelaku industri kopi bubuk dimulai setelah melihat selama puluhan tahun, hanya sekitar 30 persen masyarakat petani kopi yang membuat kopi bubuk sendiri, sementara sebanyak 70 persen lainnya memilih membeli kopi produksi pabrik.

Kopi Luwak
Pada tahun 2017/2008 Rachmat Pratikto yang tinggal di Dusun Demangan Asri, Desa Mungseng, Kecamatan Temanggung ini merintis produk kopi luwak karena penasaran terhadap biji kopi hasil fermentasi yang dikeluarkan bersama kotoran luwak justru rasanya lebih enak daripada kopi biasa.

Saat merintis produk kopi tersebut, Pratikto hanya memelihara dua hingga tiga ekor luwak untuk menghasilkan biji kopi dan hasilnya untuk dinikmati kalangan sendiri.

“Karena rasa penasaran, saya mencoba memelihara dua hingga tiga ekor luwak untuk meyakinkan analisis saya bahwa biji kopi yang dihasilkan dari pencernakan luwak memang benar-benar biji kopi yang berkualitas dan memiliki rasa lebih enak daripada kopi pada umumnya,” katanya.

Menurut dia, hasil uji coba tersebut kemudian menyebar dari sejumlah temannya yang pernah merasakan kenikmatan kopi luwak hasil produksinya, kemudian banyak orang memesan kopi luwak tersebut.

Ia menuturkan bahwa pada tahun 2010 bersamaan “booming” produk kopi luwak, pihaknya mulai mengomersialkan biji kopi luwak dengan menjual kepada konsumen. Sarjana Teknologi Pertanian lulusan Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini kemudian menambah luwak untuk diternak guna menghasilkan biji kopi luwak lebih banyak.

Pada awal bisnis tersebut dia mematok harga Rp600 ribu per kilogram kopi bubuk. Untuk lokal Jateng, waktu itu, harga tersebut sudah luar biasa.

Harga yang cukup fantastis tersebut kemudian membuat banyak orang ingin mencoba memproduksi kopi luwak, tidak hanya di Temanggung, tetapi juga daerah lainnya.

“Waktu itu saya sering menjadi pembicara di sejumlah tempat dan banyak juga dari luar Temanggung yang melakukan studi banding ke rumah kami,” katanya.

Menurut dia banyak produsen kopi luwak yang gagal karena terkendala pemasaran. Mereka bisa memproduksi kopi luwak dalam jumlah besar, tetapi tidak menguasai pasar.

“Mereka kebanyakan hanya tergiur dengan harga kopi luwak yang begitu tinggi, tetapi terkendala dalam pemasaran,” katanya.

Padahal, kata diaa, setahun kopi luwak hanya bisa diproduksi dalam waktu tiga hingga empat bulan bersamaan masa panen kopi, selebihnya piaraan luwak tersebut harus diberi makan buah-buahan yang lain. Karena biaya tinggi dan kendala pemasaran tersebut, banyak yang telah mencoba memproduksi kopi luwak berhenti di tengah jalan.

Ia mengatakan bahwa untuk menjaga kesehatan dan juga kebutuhan makanan binatang piaraan tersebut, pihaknya tidak hanya memberi pakan berupa buah, tetapi juga daging dan ikan untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium.

“Berdasarkan pengamatan kami, jika kebutuhan kalsium kurang, untuk memenuhinya luwak akan memakan bulunya sehingga bulu akan menjadi tipis dan kedinginan akhirnya mati,” katanya.

Pertahankan Pelanggan
Pratikto kini memelihara 23 ekor luwak, dua ekor di antaranya merupakan luwak yang telah dipeliharanya sejak awal membuat kopi luwak.

Menurut dia, dari 23 ekor luwak tersebut, dapat memproduksi biji kopi luwak sebanyak 3–5 ton per tahun. Harga kopi luwak, baik biji sangrai maupun bubuk sama, yakni Rp1 juta per kilogram.

Hingga saat ini dia fokus pada kopi luwak arabika karena kopi jenis ini belum banyak tersedia di pasaran, sedangkan kopi robusta sudah banyak, terutama dari Sumatera.

Produk kopi luwak

Ranah Kopi

melewati masa booming kopi luwak

yang dihasilkannya dipasarkan ke sejumlah kota, antara lain Semarang, Yogyakarta, Tangerang, dan Bandung.

“Kebanyakan mereka adalah para pelanggan rutin yang selalu kami kirim setiap ada permintaan,” katanya.

Selain permintaan di dalam negeri, katanya, pernah ada permintaan dari luar negeri, antara lain dari Malaysia, Hong Kong, Korea, Spanyol, dan Jerman.

Ia mengatakan bahwa pembeli ada yang datang langsung ke rumah. Mereka kebanyakan para wisatawan atau orang yang mau bepergian ke luar negeri membawa kopi luwak sebagai oleh-oleh.

Menurut dia, pihaknya belum punya keinginan untuk memperbesar usahanya dengan meningkatkan produksi. Dia ingin mempertahankan pelanggan yang ada.

“Kami justru ingin mengetahui seberapa besar surutnya ‘booming’ kopi luwak sehingga kami bisa mengukur kebutuhan normal yang bisa disiapkan. Sebab, kopi luwak hanya diminati kalangan tertentu saja,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pangsa pasar kopi luwak ada dua macam, yakni mereka yang penasaran terhadap kopi luwak dan sebagai suatu yang prestise.

“Mereka yang penasaran biasanya permintaan tidak rutin meskipun juga berpeluang bisa berlanjut, sedangkan mereka yang menganggap sebagai prestise maka kebutuhannya rutin,” katanya.

 

Sumber: http://www.antarajateng.com/detail/melewati-masa-booming-produk-kopi-luwak.html