Setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari Semerbak Coffee pertengahan April lalu, maka pencarian jati diri bisnis saya dimulai kembali.

What’s next? Mau ke mana setelah ini? Apakah tetap berbisnis di bidang kopi? Atau mencoba bisnis bidang lain? Apakah mau usaha sendirian atau berpartner? Apakah bidang produksi atau jasa? Apakah model franchise? Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersliweran dalam diri saya.

Pertanyaan-pertanyaan itu juga yang saya lontarkan kepada Tuhan. Saya terus bertanya dan bertanya, sambil mencari ‘jawaban dari Tuhan’.

Sebenarnya ada beberapa pihak yang menawarkan kerjasama setelah tahu saya tidak lagi di Semerbak. Baik di bidang kopi maupun di luar kopi. Tapi akhirnya saya putuskan, kali ini saya ingin menjalankan usaha yang mandiri. Saya dirikan dan jalankan sendiri.

Dan karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan kopi, dan punya sedikit pengetahuan tentang kopi, saya putuskan juga bahwa usaha berikutnya tetap di bidang kopi. Tapi saya tidak akan membuat bisnis yang akan head-to-head dengan Semerbak. Saya tidak akan mendirikan Semerbak-Perjuangan hehe… Saya harus membuat sesuatu yang berbeda dari Semerbak.

Tapi apa ya?

Saya dapatkan secercah sign awal saat berkesempatan bertemu Mas Arief Budiman @mybothsides saat ajak keluarga liburan singkat di Jogja. Janji ketemuan di hari pertama sekalian bareng Mas @Saptuari dan Bang @JayTeroris batal, karena saya pulang kemalaman setelah putar-putar kota Jogja. Alhamdulillah hari kedua bisa ketemu.

Beliau cerita bahwa beberapa teman, diantaranya Mas @Handoko_h ‘Brand Gardener’, sedang berkolaborasi membuat gerakan “Paradesa”.  Gerakan mengangkat produk-produk lokal, menjadi lebih sellable dan mengglobal. Salah satu penggeraknya juga adalah Mas Ayip @ayipbali yang tinggal di Bali. Beliau punya kafe Kopi Kultur yang punya story kuat tentang kopi lokal. Saya tertarik sekali dengan semangat gerakan ini. Dan juga tertarik dengan Kopi Kultur ini.

Pulang dari pertemuan dengan Mas Arief malam itu, saya membatin, “It is must be a SIGN!”.

Beberapa hari kemudian,  kebetulan saya ada keperluan menyambangi OneComm, kantornya Mas Handoko, di Darmawangsa Square. Sayangnya tidak bertemu dengan Mas Handoko karena beliau sedang keluar kantor. Sambil menunggu istri saya yang kebetulan meeting di mal yang sama, saya ngopi di salah satu kafe di situ. Saat sore akan pulang, kebetulan bertemu Mas Handoko yang lewat di depan kafe tempat saya nongkrong.

Beliau cerita banyak tentang beberapa program kolaborasi yang sedang dilakukan bersama teman-teman. Termasuk Paradesa tersebut. Dan salah satu yang diceritakan adalah Mas Ayip dan Kopi Kultur-nya. Saya benar-benar tertarik ingin kenal dengan Mas Ayip tersebut dan ingin meninjau Kopi Kultur nya.

Kebetulan, beberapa hari lagi Mas Handoko akan ke Bali berbicara di Kelas @AkberBali (Akademi Berbagi) dan kebetulan sekali lokasinya di Kopi Kultur. Spontan saat itu juga saya dan isteri menyatakan akan ikut ke Bali.

See? Banyak sekali kebetulan-kebetulan yang terjadi ‘kan? Ya memang sebenarnya tidak ada yang namanya “kebetulan” itu. Semua kejadian yang terjadi ada hikmah dan tujuan di baliknya.

Saat itu saya hanya berperasaan, bahwa Tuhan sedang menuntun saya ke jawaban yang ingin ditunjukkanNya. Benar sekali kalau kita dianjurkan untuk selalu melatih membuka mata, telinga dan hati kita lebar-lebar untuk dapat membaca tanda-tandaNya.

Always keep an open mind & an open heart, and the solution you seek will come your way. @TheGodLight

Cerita saat di Bali dan cerita lanjutan sampai akhirnya saya berhasil menjalankan bisnis baru, bersambung di tulisan berikutnya ya…

.

Depok 15 Juli 2013

Muadzin F. Jihad

Founder Semerbak Coffee

Twitter @muadzin