sumber : http://kopikeliling.com/news/kecanduan-kopi-ternyata-faktor-genetik.html

Sunday, 19 October 2014

By Editorial Kopi Keliling

 

coffeeshop

Biasanya, orang yang di keluarganya sedari kecil terbiasa makan pedas dan lalu menikah dengan orang yang suka makanan yang pedas, juga akan melahirkan anak-anak yang suka makanan pedas. Seperti yang terjadi di keluarga orang-orang keturunan Minang atau Manado. Tapi orang-orang Kaukasia yang memang nggak terbiasa makan makanan pedas, akan sangat menderita ketika dipaksa makan makanan pedas yang menurut orang Minang atau Manado sangat nikmat. Jadi ternyata, dalam makanan pun ada faktor genetik yang menyebabkan mengapa seseorang suka atau tidak suka makanan tertentu.

Hal ini juga terjadi pada mereka (atau kita) yang sangat ketagihan dengan kopi. Orang yang terbiasa makan pedas nggak akan bisa makan makanan yang pedas, sama halnya orang yang terbiasa minum kopi setiap hari nggak akan bisa melalui harinya tanpa kopi.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Molecular Psychiatry, terbukti bahwa kebutuhan kopi seseorang setiap harinya itu sangat berhubungan erat dengan faktor genetik. Penelitian ini dipimpin oleh Marilyn Cornelis dari Harvard School of Public Health, dan mereka menemukan penyebab mengapa beberapa orang membutuhkan kafein lebih dari yang lainnya. Ternyata penyebabnya bukan toleransi dalam tubuh mereka, tapi faktor keturunan.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 120.000 orang keturunan Eropa dan Afrika, dan mereka semua adalah peminum kopi. Ditemukan bahwa memang ada orang yang dapat minum lebih banyak kopi dari yang lainnya karena tubuh mereka dapat memproses kafein lebih cepat – dan ini faktor keturunan.

Riset ini memang hanya salah satu contoh bagaimana faktor genetik berpengaruh dalam kebiasaan seseorang, tapi menurut Marian Neuhoser, seorang ahli gizi di Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, dapa membantu para dokter untuk mengidentifikasi para pasien yang membutuhkan pertolongan untuk menurunkan dosis kafein yang mereka konsumsi setiap hari. Bagi para perempuan yang sedang hamil atau menyusui, misalnya.

Konon kabarnya, perempuan yang masih mengonsumsi kafein saat hamil akan memperoleh bayi yang mudah gelisah dan rewel nantinya, karena si bayi terbiasa mendapatkan asupan kafein ketika masih berada dalam kandungan ibunya. Nggak ada bedanya dengan orang dewasa yang terbiasa minum kopi dan mendadak harus berhenti minum kopi. Bayinya jadi mempunyai ketergantungan dan ketagihan kopi. Kasihan, kan?

Kembali lagi ke masalah genetik tadi: kalau kamu seorang pecandu kopi, apakah orangtua kamu juga peminum kopi? Atau mungkin kamu menjadi peminum kopi sejak kopi menjadi salah satu “bahasa gaul” di dunia anak muda?

Salam sruput!