(Berita Daerah – Sumatera) Indonesia Coffe, dengan memiliki luas areal perkebunan kurang lebih 1,2 juta hektar, dimana sekitar 96 persen merupakan lahan perkebunan kopi rakyat, dan selebihnya 4 persen milik perkebunan swasta dan pemerintah. Hal tersebut membuat citra rasa kopi Indonesia semenjak 1960 diakui kopi terbaik ke tiga di dunia.

 

Ranah Kopi

Kopi-Indonesia

Berbagai macam kopi yang dihasilkan di Indonesia tetap memiliki citra rasa yang terbaik dari sentuhan tangan pemetik tanaman kopi di Nusantara dan bagi penikmatnya, setiap seruputan dari sebuah cangkir kopi akan mengakui kopi Indonesia nikmat, membuat para penikmatnya menjadikan kopi minuman yang tak dapat dilewatkan setiap hari.

Indonesia juga menjadi penghasil kopi terbaik dalam jenis kopi salah satunya kopi Robusta yang dapat tumbuh pada ketinggian 400-800 meter diatas permukaan laut, sehingga tanaman kopi jenis robusta dapat menghasilkan 600.000 ton dari luas areal 1,05 juta hektar.

Namun eksportir biji hitam (kopi) di Bandar Lampung melakukan penimbunan biji kopi tersebut pada saat harga kopi mengalami sedikit penurunan dari tahun lalu. Hal tersebut membuat eksportir kopi di Bandar Lampung dengan serakah dan agresif menyimpan (menimbun) kopi robusta.

Bahkan PT Nedcoffe Indonesia Makmur Jaya yang berdiri pada tanggal 29 Juni 2005 mengatakan, jumlah stok kopi robusta yang berada di gudang Bandar Lampung mengalami penurunan. provinsi Bandar Lampung sebagai pelabuhan ekspor kopi utama di Indonesia, yang pencapaian produksi kopinya sebesar 55.000 metrik ton pada tahun 2014-2015.

Nedcoffee mengatakan, jumlah stok yang berada di gudang Bandar Lampung, di mana pelabuhan ekspor kopi utama Indonesia terletak, mencapai 55.000 metrik ton (mt) pada akhir Mei. Produksi kopi robusta di Sumatera bagian selatan, diperkirakan turun 16 persen pada 2014-2015. Sehingga total ekspor kopi robusta menembus 12.000 ton pada bulan Mei, turun 59 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

PT Nedcoffe yang berdiri di Provinsi Bandar Lampung menyampaikan bahwa pengiriman kopi robusta dari Indonesia tidak seburuk yang dipikirkan, sebab jika dilihat dengan angka yang ada sekitar 26 persen dari biji kopi yang dijual. Hanya saja petani kopi Bandar Lampung masih menahan untuk melepas biji kopi karena harga di pasaran mengalami penurunan yang lebih rendah, diperkirakan bahwa petani akan melepas hasil panen pada bulan depan.

Apalagi menjelang dan selama bulan puasa dan hari raya Ramadhan dan Perayaan Idul Fitri dipastikan akan mendorong permintaan dan panen tanaman kopi yang tumbuh di dataran tinggi menjadi yang terbesar, sebab itu diharapkan penjualan bertambah.

Bahkan para pedagang kopi yang tergabung dalam Volcafe, mengatakan bahwa kopi Indonesia untuk pengiriman pada bulan Juli dan Agustus diiperjual belikan pada premi sebesar USD 60 per ton di bursa NYSE Liffe di London pada akhir bulan lalu.

Selain produsen terbesar kopi robusta adalah Indonesia, Vietnam juga salah satu pesaing kopi Indonesia yang memiliki produsen kopi robusta terbesar juga sedang mengalami hal yang sama sedang menahan penjualan kopinya sambil menunggu harga melambung tinggi. Negara penghasil kopi terbesar Vietnam juga sedang memperlambat penjualan kopi sebesar 70.000 ton kopi bulan lalu, meskipun para petani di Vietnam masih menjual hasil kopi mereka.

 

Sumber: http://beritadaerah.co.id/2014/06/20/eksportir-timbun-kopi-robusta-di-lampung/